Catatan Si Blogger

Menjadi Blogger Netral, Mengambil Jarak yang Sama dengan Semua Caleg

26 Mar 2014 - 09:50 WIB

Pelaksanaan Pemilu 2014 tinggal beberapa hari lagi. Kampanye sudah dimulai sejak tanggal 16 Maret 2014 lalu. Jalanan menjadi macet karena banyaknya simpatisan yang ikut menghadiri kampanye caleg atau partai pilihannya. Termasuk juga pemasangan umbul-umbul, poster, sticker yang bertebaran di mana-mana. Di tiang listrik, di jembatan, toko-toko, bahkan yang menyedihkan dipaku di pohon-pohon. Selain itu tidak ketinggalan memanfaatkan media elektronik seperti televisi dan radio. Untuk caleg yang salah satu petingginya atau capresnya memiliki jaringan televisi mudah saja tampil di tv tersebut. Dengan dalih ikut sosialisasi kampanye, partai-partai yang memiliki tv tersebut sangat sering tampil di tv dengan program-program yang setinggi langit. Rakyat jelata yang berada di pelosok mungkin terbuai dan memilih partai tersebut. Padahal iklan tersebut tampil di tv yang merupakan layanan publik bukan kepentingan golongan atau perorangan.

Selain itu kini kampanye caleg dan partai gencar juga di social media seperti facebook dan twitter. Simpatisan dan pendukung rame-rame menjagokan caleg atau capres pujaannya. Ada yang malu-malu. Ada juga yang terang-terangan. Entahlah mereka itu dibayar atau hanya simpatisan. Sudah menjadi rahasia umum beberapa buzzer saat ini sudah bisa dibayar untuk mempromosikan partai atau caleg tertentu. Suka atau tidak suka. Mereka yang idealisme nya tipis dan menempatkan rupiah di atas segalanya dengan senang hati menerima tawaran tersebut yang penting rekening terisi.

Ada kawan Blogger yang menjadi salah satu simpatisan atau buzzer tertentu. Dalam status akun social medianya selalu memuja dan memuji partai dan capres pilihannya. Tidak ketinggalan menjelek-jelekkan partai dan capres lain. Tentu statusnya tersebut mendapat beragam komentar dari beberapa temannya. Bukan hanya yang mendukung, tapi ada juga yang menghujat. Para komentator ini tidak terima capres pujaannya juga di jelek-jelekan. Maka terjadilah twitwar atau perang komentar di dunia maya. Tentu hal ini menjadi bumerang bagi simpatisan atau buzzer tersebut. Yang awalnya berteman namun karena berbeda idol menjadi berjarak. Tidak jarang ada yang menjadi saling benci dan menjaga jarak.

Saya sendiri memutuskan untuk netral. Mengambil jarak yang sama dengan semua caleg. Tidak mendukung suatu partai atau caleg tertentu. Sebagai blogger saya hanya ingin menyampaikan realita yang sebenarnya. Tidak melebih-lebihkan. Tidak menjelek-jelekknya. Apa adanya. Dalam tweet-tweet yang saya posting saya hanya menyampaikan pendapat pribadi akan suatu partai atau capres. Track recordnya. Prestasinya. Masa lalunya. Semuanya terbuka dan tidak bermaksud mempengaruhi orang lain.

Boleh saj amenjadi buzzer dan simpatisan suatu partai asal sesuai dengan hati nurani (bukan promo partai ya! :)). Maksudnya menjadi buzzer partai tersebut karena suka dan cocok dengan vici mici partai tersebut. Jika sudah klop tentu enak kan melakukan kampanyenya. Nah yang repot disuruh jadi buzzer tapi tidak sesuai dengan hati nurani. Yang ada malah melacurkan diri dengan membuat postingan-postingan yang bertentangan dengan hati. Memuja muji padahal capres tersebut masih riskan kapabilitasnya. Tentu banyak orang yang menghujat status atau postingan-postingan tersebut.

Jangan Golput

Masih bingung dan sanksi dengan caleg yang ada? Cobalah sekali lagi telaah pasti minimal ada yang baik. Masa sih dari ratusan caleg tidak ada yang benar. Kalo masih keukeuh tidak ada yang cocok jangan langsung jadi golongan putih yang tidak memilih satupun. Jika memang berniat tidak terpilih silahkan saja tapi usahakan pada hari H 9 April 2014 datang saja ke TPS. Jika tiba giliran mencoblos silahkan masuk dan rusak surat suaranya sehingga surat suara tersebut tidak utuh lagi. Mengapa hal ini dilakukan? Dengan rusaknya surat suara tersebut tidak akan bisa digunakan lagi jika ada yang hendak melakukan kecurangan. Karena sudah rusak. Ingat kasus Akil Mochtar yang melakukan pencoblosan saat pilkada dengan melakukan pencoblosan pada surat suara yang masih utuh untuk memenangkan calon tertentu yang dijagokannya. Hal tersebut bisa dihindari dengan melakukan perusakan surat suara. Namun sebaiknya dihindari dan langkah tersebut merupakan langkah terakhir.

Sebelum memutuskan golput sebaiknya menyimak apa yang diucapkan oleh Bertold Brencht seorang penyair dan dramawan Jerman,

“Buta terburuk adalah buta politik. Orang yang buta politik tak sadar bahwa biaya hidup, harga makanan, harga rumah, harga obat, semuanya bergantung keputusan politik. Dia membanggakan sipak anti politiknya, membusungkan dada dan berkoar “Aku benci politik!”. Sungguh bodoh dia, yang tak mengetahui bahwa karena dia tidak mau tahu politik, akibatnya adalah pelacuran, anak terlantar, perampokan dan yang terburuk korupsi dan perusahaan multinasional yang menguras kekayaan negeri.”

Bagaimana? Masih berniat golput?


TAGS   #NgeblogPemilu2014 / Pemilu 2014 /


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive