Catatan Si Blogger

[Terios7Wonders] Hari ke-13 : Taman Nasional Komodo

19 Oct 2013 - 23:34 WIB

Alkisah beberapa waktu yang lalu hidup di sebuah desa seorang pemuda yang menikahi seorang wanita bernama Putri Naga yang datang dari negeri seberang. Tidak lama setelah menikah sang putri hamil dan beberapa waktu kemudian melahirkan bayi kembar. Namun kedua anak kembar tersebut berbeda, yang satu berwujud manusia, sedangkan kembarannya menyerupai seekor kadal. Karena malu salah satu anak kembarnya berbeda dengan bayi lainnya, maka anak yang menyerupai kadal dibuang ke sebuah.

Waktu terus berjalan hingga anak kembar beranjak besar, sampai suatu hari anak tersebut berburu dan hendak memanah salah satu hewan buruannya berupa seekor komodo. Namun saat hendak memanah sang ibu mencegahnya. “Jangan bunuh dia nak, dia adalah saudara kembarmu!” ujar sang ibu. Sang anak tentu kaget dan menjawab, “Mana mungkin bunda aku memiliki saudara seekor komodo?”

Sang ibu lalu menjelaskan, “Beberapa tahun lalu bunda melahirkan bayi kembar. Dirimu dan komodo itu. Coba lihatlah tangan komodo tersebut dan ada tanda lahir yang sama denganmu!” Dan benar saja ketika diperiksa di kedua tangan mereka terdapat tanda lahir yang sama. Dan akhirnya sang anak tidak jadi membunuh komodo yang ternyata kembarannya tersebut.

***

Itulah sepenggal kisah tentang Komodo dan Putri Naga yang diceritakan oleh Mustaqim salah seorang ABK dari kapal Playaran. Kebenaran cerita tersebut tidak perlu diperdebatkan, namun cerita tersebut cukup melegenda di kalangan rakyat Flores dan sekitarnya. Kisah tersebut terungkap ketika kita sama-sama akan tidur di atas kapal Playaran. Jadi semacam dongeng sebelum tidur. Dan akhirnya kita semua terlelap di atas kapal Playaran.

Saat hari masih gelap terdengar suara mesin dibunyikan. Saya melirik jam dalam kegelapan. Phospor yang tertera di dalam jam sangat membantu untuk melihat dalam gelap. Jam 4 subuh. Tidak lama kapal bergerak pelan. Membelah laut yang sunyu di pelabuhan Labuan Bajo. Saya kembali meneruskan tidur karena rasa kantuk yang masih mendera.

Bunyi bel membangunkan saya. Cukup kaget juga karena bel itu kan tandanya untuk makan. Wah ternyata sudah siang. Sudah jam 7 pagi dan waktunya sarapan. “Kita sudah sampai. Itu Pulau Komodo dan itu Pantai Pink.” ucap seorang ABK. Campur aduk rasanya ketika bangun sudah berada didepan mata sebuah pulau yang menjadi tujuan akhir dari sebuah perjalanan. Pulau Komodo! Tempat yang sangat sering kita sebut selama 13 hari terakhir ini. Akhirnya kesampaian juga! ucap saya dalam hati.

Bangun tidur dan langsung melihat pemandangan Pulau Komodo dan Pantai Pink.

Bangun tidur dan langsung melihat pemandangan Pulau Komodo dan Pantai Pink.

Kami segera menuju dapur dan menyantap sarapan pagi yang sudah dihidangkan oleh sang juru masak. Entah kapan orang ini masaknya, tiba-tiba semua hidangan lengkap tersaji di meja dapur. Ada nasi goreng, aneka buah, roti, kopi dan teh. Kami semua menyantap dengan lahap sambil melihat dari kejauhan sebuah pantai yang pasirnya berwarna merah muda. Cukup lama kami berada di tempat itu, sambil menunggu kedatangan kapal “Blue Dragon” satu persatu kami mandi dan berkemas-kemas.

Ketika kapal mulai mendekat, pemandangan semakin jelas

Ketika kapal mulai mendekat, pemandangan semakin jelas

Saat “Blue Dragon” sudah tiba, dengan menggunakan boat kecil semua tim merapat ke Pantai Pink dan kami semua tidak kuasa untuk mencebutkan diri ke dalam air yang sangat jernih. Seperti air kolam renang yang baru dikuras. Bening. Dan ketika mencelupkan kepala ke dalam air, terhampar sebuah pemandangan dalam laut yang menakjubkan. Tidak perlu diving untuk melihat keindahannya, cukup snorkeling di sekitar Pantai Pink ini. Semua tersaji dengan indah. Indah sekali.

Inilah Pink Beach!

Inilah Pink Beach!

Tahan godaan nyebur kalau liat ini?

Tahan godaan nyebur kalau liat ini?

Ada batu-batu karangnya juga

Ada batu-batu karangnya juga

Cukup penasaran juga kenapa pantai ini berwarna pink. Saya ambil pasirnya dan ternyata ada butiran-butiran berwarna merah. Ternyata itu adalah pecahan dari karang-karang yang sudah mati dan hancur, lalu terbawa oleh ombak dan menyatu dengan pasir pantai. Beberapa teman sudah beranjak dari dalam laut dan mulai menjelajahi tempat di sekitar pantai. Ada yang sudah naik bukit di bagian kanan. Karena penasaran saya pun keluar dari pantai dan ikut naik ke atas bukit dan sesampainya diatas sama terhampar keindahan yang begitu menakjubkan sepanjang 360 derajat. Saya hanya bisa mengucap syukur.

Pemandangan dari atas bukit

Pemandangan dari atas bukit

Foto bareng sebelum meninggalkan Pantai Pink

Foto bareng sebelum meninggalkan Pantai Pink

Kami semua harus kembali ke kapal karena ada acara lain menanti di dermaga Pulau Komodo. Saat memasuki kawasan dermaga, nampak dari kejauhan sebuah kapal barang yang sudah bersandar di dermaga dan saya cukup takjub karena dibagian buritannya terdapat mobil yang selama ini menemani perjalanan kami selama 13 hari terakhir. Ya, disana ada sebuah mobil Daihatsu Terios yang terikat dalam kapal barang tersebut. Akhirnya misi utama yaitu membawa mobil tersebut sampai ke Pulau Komodo berhasil. Namun mobil tersebut tidak sampai diturunkan ke dermaga, apalagi sampai dihidupkan, karena takut mengganggu ekosistem di Taman Nasional ini. Beberapa ABK cukup takjub dengan kehadiran mobil di Pulau Komodo karena selama ini tidak pernah ada mobil yang sampai di dermaga ini. Jadi bisa saja ya Daihatsu Terios ini masuk MURI sebagai mobil pertama yang merapat di dermaga Pelabuhan Pulau Komodo.

Daihatsu Terios berada di kapal barang yang bersandar di Dermaga Pulau Komodo

Daihatsu Terios berada di kapal barang yang bersandar di Dermaga Pulau Komodo

Daihatsu Terios merapat di Dermaga Pulau Komodo

Daihatsu Terios merapat di Dermaga Pulau Komodo

Setelah sukses menyelesaikan misi utama, kami diberi dua pilihan sulit untuk acara berikutnya. Mau kembali diving di Manta Spot atau trekking ke Pulau Rinca? Benar-benar pilihan yang sulit. Diving dengan pemandangan Manta sejenis ikan Pari yang konon panjangnya bisa mencapai 6 meter sungguh menggoda. Namun trekking di Pulau Rinca dan akan bertemu dengan Komodo tidak kalah menariknya.

Namun akhirnya seluruh sahabat petualang kapal Playaran sepakat untuk melakukan trekking di Pulau Rinca dengan alasan diving dan melihat manta bisa dimana saja dan kapan saja, sementara kesempatan untuk melihat Komodo hanya bisa dilakukan di tempat ini. Sebuah pilihan yang tepat dan masuk akan. Kapal mulai bergerak kembali ke Loh Buaya, salah satu spot masuk Taman Nasional Komodo di Pulau Rinca.

Saat memasuki kawasan Taman Nasional kami di kawal oleh seorang ranger dan memberikan beberapa informasi dan instuksi jika bertemu dengan komodo. Setelah menbayar retribusi kami mulai trekking keliling taman nasional. Komodo pertama kami temui saat mereka leyeh-leyeh di kolong sebuah rumah yang berfungsi sebagai dapur. Bisa jadi karena mereka mencium aroma makanan di rumah tersebut. Ada 3 (tiga) ekor komodo yang sedang ngadem di kolong rumah. Beberapa pengunjung yang kebanyakan orang asing sibuk mengabadikan dengan foto dan video.

Selamat Datang di Komodo National Park

Selamat Datang di Komodo National Park

Lalu kami bergerak kembali dan mulai trekking menaiki sebuah bukit. Theme song yang cocok adalah lagu naik-naik ke puncak gunung, karena bukitnya juga cukup tinggi dan bikin napas ngos-ngosan. Namun semua perasaan capek langsung hilang ketika sudah tiba di puncak bukit. Sahabat petualang kembali disuguhi pemandangan indah 360 derajat. Pantai yang bergradasi biru. Bukit-bukit hijau dan kecoklatan. Dan langit yang cukup cerah bersahabat. Sebuah kombinasi yang sempurna untuk masuk dalam frame sebuah foto.

Pemandangan dari atas bukit Taman Nasional Komodo

Pemandangan dari atas bukit Taman Nasional Komodo

Saat menuruni bukit kami menemui beberapa kotoran hewan yang tercecer di jalur lintasan dan saya bertanya kotoran apakah itu? Sang ranger menjawab dengan ringan, itu adalah kotoran kerbau. Wah ternyata stupid question ya, everybody know bahwa itu kotoran kerbau *toyor my self*

Tidak lama kami memasuki sebuah kawasan yang disebut sarang Komodo. Ranger mewanti-wanti agar hati-hati. Disana terdapat empat buah lubang sebesar ban mobil ukuran 17″ dan ada satu komodo yang sedang termenung. Namun sayang posisinya membelakangi kami, jadi tidak cukup bagus untuk di foto. Tidak kalah akal, kami semua memutar sehingga berhadapan secara face to face dengan sang komodo. Semua kamera sudah stand by menunggu momen yang pas untuk sesi pemotretan. Momen yang bagus adalah ketika komodo menjulurkan lidahnya yang panjang atau menguap memperlihatkan gigi-giginya yang tajam. Lama juga kami menunggu momen tersebut dan akhirnya beberapa dari kami yang menguap :D

Seekor komodo sedang beraksi

Seekor komodo yang kami temui di Taman Nasional

Setelah puas foto-foto perjalanan kami lanjutkan dan kami bertemu dengan Komodo yang ketiga yang berada diantara daun-daun yang sudah menguning. Kelihatannya saru, untung diberitahu sang ranger bahwa itu adalah Komodo. Kami semua mendekatinya dan sudah siap dengan kamera masing-masing. Mungkin karena merasa risih di foto terus Komodo tersebut lalu berjalan meninggalkan tempat tersebut. Momen ini justru sangat bagus dan dimanfaatkan untuk memfoto lebih banyak sambil mengikuti kemana Komodo itu pergi. Tapi jadi lucu juga seperti melihat infotainment ketika wartawan mengejar-ngejar artis atau nara sumber :D

Sampai akhirnya kami kembali ke tempat saat trekking dimulai. Disini kita bisa beristirahat sambil minum dan membeli souvenir khas. Saya sendiri membeli miniatur Komodo yang terbuat dari kayu. Bentuknya mini sekali karena itu yang paling murah, yang agak besaran harganya sudah ratusan ribu rupiah :D

Setelah puas berkeliling di Taman Nasional dan berhasil menemui sekitar 7 (tujuh) ekor Komodo, kami kembali ke kapal dan sudah tersaji santap siang. Masih ada waktu untuk eksporasi kawasan ini. Mustaqim mengajak kami ke Pulau Kalong. Apa istimewanya? Kita lihat sama-sama jawabnya membuat kami tambah penasaran. Saat tiba di Pulau Kalong sepertinya pulau tersebut biasa-biasa saja. Sama dengan pulau-pulau lainnya. Tapi lama kelamaan banyak kapal lain mulai merapat di dekat pulau tersebut. Matahari mulai tenggelam dan hari mulai gelap. Tidak berapa lama terjadilah sebuah peristiwa yang begitu menakjubkan. Ribuan bahkan puluhan ribu kalong keluar dari pulau tersebut dan terbang ke arah Labuan Bajo. Sebuah pemandangan yang unik dan baru pertamakali melihat begitu banyak kelelawar melakukan ekspansi secara besar-besaran. Kejadian ini berlangsung sekitar setengah jam dan baru benar-benar selesai ketika hari sudah gelap.

Ribuan kelelawar terbang dan keluar dari Pulau Kalong

Ribuan kelelawar terbang dan keluar dari Pulau Kalong

Selanjutnya kami kembali berlayar untuk kembali ke Labuan Bajo. Kapal kami bersandar di pelabuhan, bersisian dengan kapal “Blue Dragon”. Lalu berbaur satu sama lain dan berbagi cerita tentang petualangan akhir di Taman Nasional Komodo hingga larut malam. Sebuah malam penuh kebahagiaan untuk merayakan sebuah kesuksesan petualangan Terios 7 Wonders yang sudah kami jalani selama 13 hari.

7 destinasi sudah kami singgahi mulai dari Sawarna, Banten - Merapi, Jogja - Ranu Pani, Semeru - Baluran, Banyuwangi - Sade Rembitan, Lombok - Dompu, Sumbawa hingga puncaknya di Taman Nasional Komodo yang merupakan salah satu dari new 7 wonders yang diakui oleh dunia. Menyambangi pantai-pantai yang tersembunyi. Merasakan dinginnya kawasan Gunung Semeru. Mendalami budaya Lombok. Menyelami laut perairan Pulau Komodo. Semua keunikan dari “hidden paradise” sudah kami lalui dengan sukses dan selamat.

Terima kasih kepada semua tim yang terlibat. Mulai dari Astra Daihatsu Motor Indonesia yang menginisiasi program ini, Blogdetik dan Vivanews yang menjadi partner media, sahabat blogger, media otomotif, hingga para pengemudi dan tim pendukung. Semua ini tidak akan tercapai, tanpa kerjasama kita semua.

Bravo!

Salam Sahabat Petualang!

@harrismaul untuk #Terios7Wonders


TAGS   Terios 7 Wonders /


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive