Catatan Si Blogger

[Terios7Wonders] Hari ke-12 : Diving & Live On Board di Kapal Phinisi

18 Oct 2013 - 00:09 WIB

Kembali suara ombak membangunkan saya dari tidur lelap. Setelah semalam check-in tengah malam (tepatnya dini hari), kini tepat jam 05:30 kami sudah bangun dan harus segera berkemas untuk check out. Sayang juga hotel sebagus ini hanya dipakai 5 jam saja. Sebelum mandi saya bergegas menuju Pantai Pede yang berada di bagian belakang Hotel Luwansa, Labuan Bajo.

Tidak salah saya selalu mengalungi DSLR kemana-mana karena pemandangannya begitu ciamik. Bukan hanya pantai, tapi arsitektur dan lansekap hotel juga cukup baik untuk diabadikan. Ada kolam renang tepi pantai, jadi para tamu cukup bingung ada dua pilihan : mau nyebur di pantai atau kolam renang. Ada juga pemandangan pasir bersisik. Sebelum rusak diinjak tamu segera saja saya abadikan.

Mau renang di kolam atau pantai?

Mau renang di kolam atau pantai?

Pasir Bersisik di Pantai Pede, Labuan Bajo

Pasir Bersisik di Pantai Pede, Labuan Bajo

Dan ketika ada cafe tepat di bibir pantai, sekalian saja langsung sarapan, biar nanti balik ke kamar langsung packing dan check out. Saat traveling dengan itinerary padat memang harus bisa mengatur waktu sefleksibel mungkin. Setelah semua berkumpul di lobby seperti biasa diadakan briefing sebelum memulai aktifitas. Hari ini kami para blogger harus berpisah dengan tim yang sama-sama berangkat dari Jakarta. Blogger dan tim Daihatsu plus media yang baru datang akan melakukan diving dan ber Live on Board (menginap di kapal) di kapal phinisi di sekitar perairan Pulau Komodo.

Sebelumnya diadakan acara pemberian 7 ekor kambing untuk kurban dari tim Daihatsu Terios 7 Wonders yang diwakili oleh pengurus masjid yang berada di dekat tempat kami menginap. Semoga berkah dan bisa dinikmati oleh masyarakat sekitar saat lebaran Idul Adha nanti. Setelah itu kami mulai bergerak ke Pelabuhan Labuan Bajo

Kurban 7 Ekor Kambing

Kurban 7 Ekor Kambing

Pelabuhan Labuan Bajo

Pelabuhan Labuan Bajo

Tim Daihatsu, Media dan Blogger yang ikut dibagi menjadi dua kelompok dan menggunakan dua kapal phinisi yang berbeda, saya dan keempat sahabat blogger laki-laki plus 2 media (Pak Agam dan Dadan) dan Pak Rio dari Daihatsu menggunakan kapal Phinisi Playaran. Sedangkan dua sahabat bloggerwati Uci dan Mumun, media dan tim Daihatsu lainnya menggunakan kapal phinisi Blue Dragon. Kami mulai berlayar bersisian menuju lautan sekitar Pulau Komodo.

Kapal Phinisi Playaran

Kapal Phinisi Playaran

Kapal Phinisi Blue Dragon

Kapal Phinisi Blue Dragon

Kapal Phinisi Playaran adalah sebuah kapal tradisional jenis phinisi yang dilengkapi oleh mesin. Saat mesin digunakan, layar ditutup. Ada 6 (enam) tempat tidur untuk penumpang dan diatasnya ada sundeck untuk melihat pemandangan dan berjemur. Dan inilah yang membuat kulit saya menjadi lebih hitam.

Sundeck yang membuat kulit tambah item :D

Sundeck yang membuat kulit tambah item :D

Saat yang dinantikan pun tiba. Kami akan memulai fundive di perairan sekitar Pulau Bidadari. Saya cukup pede walau agak deg-degan saat akan diving untuk pertamakalinya setelah memiliki lisensi Scuba Divers. Mencoba mengingat-ingat kembali apa yang dipelajari beberapa bulan lalu saat belajar. Intinya jangan lupa squeeze (mengeluarkan udara dari telinga), buoyancy (keseimbangan tubuh, jangan sampai mengapung atau tenggelam), masker clearing dan jangan panik. Itu saja.

Saya memulai dengan giant stride yaitu teknik dengan melangkahkan kaki dari kapal dan langsung terjun ke laut. Dan byurrr… segera mengempiskan BCD sambil squeeze. Tidak lama saya dan buddy yang seorang DiveMaster sudah berada di dasar laut kedalaman 20 meter. Dua blogger lainnya yang ikut fundive Bambang dan Puput segera menyusul. Dihadapan kami terbentang seperti sebuah padang pasir. Kok tidak ada apa-apa pikir saya. Lalu kami mulai bergerak dan mulai menemukan ikan-ikan kecil. Tidak lama kami juga menemukan tumbuh-tumbuhan laut, terumbu karang dan segala jenis ikan yang hidup didalamnya. Sesekali saya membersihkan masker karena mulai berembun. Arus agak deras, kadang saja terpisah cukup jauh dengan buddy. Dan akhirnya buddy saya mengikat tali diantara kami berdua. Jadinya tandem. Dijamin saya nggak akan jauh-jauh dari dirinya.

Persoalan lain muncul ketika persediaan oksigen saya mulai menipis. Padahal diving baru berlangsung sekitar 30 menit. Kok saya boros banget ya? tanya saya dalam hati. Lalu dengan baik hati sang divemaster memberikan regulator octopus (cadangan) kepada (mulut) saya. Tentu tidak saya sia-siakan kesempatan ini agar lebih lama bisa diving didalam laut. Selang 15 menit persediaan oksigen sang divemaster juga sudah mencapai limit 50 bar dan akhirnya dengan kode seperti Like Facebook (jempol ke atas) kami harus segera naik sebelum kehabisan oksigen, tidak lupa melakukan deco stop selama 3 menit di kedalaman 5 meter sebelum naik ke permukaan. Hal ini dilakukan untuk menetralisasi nitrogen dalam tubuh. Cukup kaget ketika melihat darah keluar dari hidung Puput. Namun menurutnya hal tersebut sudah biasa. Sedangkan dari hidung Bambang keluar ingus hehehe.

Total 45 menit kami menyelam dan cukup puas dengan pemandangan dibawah sana. Dan bukan kebetulan ketika tiba di kapal sudah tersaji dengan manis makanan untuk santap siang. Sebuah skenario yang sempurna. Setelah santap siang, giliran discovery diving bagi sahabat petualang yang belum mempunyai lisensi. Kali ini dilakukan di tepi sebuah pantai. Sementara mereka diving kami leyeh-leyeh di sundeck sambil menunggu sunset ditemani kopi flores racikan sang juru masak dan pisang goreng. Oh rasanya indah sekali, serasa dunia milik kita.

Saat akan discovery diving

Saat akan discovery diving

Skenario berjalan baik. Sunset-nya indah. Indah sekali. Matahari kuning telur mata sapi tenggelam di balik bukit tengah laut perairan Pulau Komodo. Tidak berapa lama sahabat petualang yang melakukan discovery diving kembali dan berbagi cerita pengalaman diving pertamakalinya.

Rencananya kami akan menginap di tengah laut sekitar Pulau Rinca dan Komodo. Namun malam ini berlangsung pertandingan sepakbola U-19 antara Indonesia melawan Korea Selatan. Akhirnya kami sepakat untuk kembali ke Labuan Bajo untuk menonton bola di pelabuhan. Demi menyemangati tim Merah Putih! Tidak sia-sia yang kami lakukan, believed or not, Indonesia menang 3-2! Dan kami dan seluruh penonton di pelabuhan bersorak. Saling tos dan memuji penampilan Evan Dimas dkk. Sepakbola memang lambang persahabatan yang paling mujarab. Setelah selesai kami kembali ke kapal Plataran dan bisa tidur dengan nyenyak sambil diayun ombak kecil di pelabuhan Labuan Bajo. Sementara kapal Blue Dragon entah dimana.

Sunset di Perairan Pulau Komodo

Sunset di Perairan Pulau Komodo


TAGS   Terios 7 Wonders /


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive